
Di sebuah sudut desa di Madura, tepatnya di Dusun Gunung Malang Timur, Lenteng Barat, Sumenep, kehidupan sederhana menjadi saksi lahirnya mimpi besar seorang anak petani. Ia adalah H. Abu Yasid, yang lahir pada 9 September 1991 dari pasangan H. Muhlis dan Almarhumah Liyati.
Seperti anak desa pada umumnya, masa kecil Abu Yasid tak jauh dari tanah, ternak, dan keringat. Sejak dini, ia sudah terbiasa membantu orang tua bertani tembakau, memberi makan ayam, hingga merawat sapi dan kambing. Bagi sebagian orang, itu adalah rutinitas biasa. Namun bagi Yasid kecil, itulah sekolah kehidupan yang pertama: tentang kerja keras, kemandirian, dan keteguhan.
“Dari kecil saya sudah diajarkan untuk tidak bergantung,” ujarnya.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari MI Assyafi’iyah dan SD Lenteng Barat, lalu berlanjut ke MTs dan MA Nurud Dhalam. Di sinilah babak penting kehidupannya dimulai, enam tahun mondok di pesantren. Lingkungan pesantren tak hanya membentuk pemahaman keislamannya, tetapi juga menempa jiwa sosial dan kepemimpinannya. Ia aktif di berbagai kegiatan, mulai dari OSIS, sanggar seni, hingga pramuka.
Pesantren menjadi ruang tumbuh yang memperluas pandangannya. Namun, mimpi Yasid tidak berhenti di sana.
Dengan tekad kuat, ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Keputusan itu tidak mudah. Ia harus meninggalkan kampung halaman dan menghadapi keterbatasan ekonomi. Keinginannya sempat mengarah ke Yogyakarta, namun restu orang tua membawanya ke Jember. Pilihan itu kemudian menjadi titik balik.
Di Universitas Islam Jember, ia mengambil jurusan Administrasi Negara. Hidup sebagai mahasiswa bukan perkara ringan baginya. Ia harus berjuang membiayai kuliah, sebagian dari orang tua, sebagian lagi dari usahanya sendiri. Di tengah keterbatasan itu, ia justru semakin aktif terjun ke dunia organisasi seperti PMII, HMP, Lembaga Pers Mahasiswa, hingga Dewan Perwakilan Mahasiswa.
Menariknya, kesibukan itu tidak membuatnya lalai. Ia tetap mampu menyelesaikan studinya tepat waktu. Bagi Yasid, aktivisme dan akademik bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan saling menguatkan.
Selepas kuliah, langkah pengabdiannya berlanjut. Ia aktif di organisasi Ansor dan Banser di Jember, mengabdikan diri untuk masyarakat. Di tengah aktivitas itu, ia juga membangun kehidupan pribadi menikah dan dikaruniai dua orang anak.
Namun, mimpi belum selesai. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister sempat tertunda. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuatnya harus realistis. Ia menabung, menahan keinginan, dan terus berusaha. Hingga akhirnya, kesempatan itu datang. Dengan dukungan orang tua dan istri, ia melanjutkan S2 di UIN KHAS Jember.
“Perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada masa ketika ia merasa putus asa, terutama saat kondisi ekonomi begitu menekan. Tapi di titik terendah itu, aku memilih bertahan bersandar pada keyakinan dan tawakal,” katanya.
Hingga suatu malam, sekitar pukul 24.00 WIB, sebuah panggilan telepon mengubah segalanya. Ia mendapat kabar mendadak: dipercaya menjadi petugas haji Indonesia.
Momen itu datang tanpa rencana, namun penuh makna. Haru, tangis, dan rasa syukur bercampur menjadi satu. Bagi Yasid, itu bukan sekadar kesempatan, melainkan jawaban atas doa panjang orang tua, berkah para guru dan kiai, serta buah dari pengabdiannya selama ini.
Kini, selain menyelesaikan pendidikan magisternya, ia juga dipercaya sebagai Sekretaris PC Ansor Jember sebuah amanah yang menunjukkan kepercayaan besar terhadap kapasitas dan integritasnya.
Kisah Abu Yasid adalah potret nyata bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tanah yang sederhana. Bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan pijakan. Dan bahwa kerja keras, doa, serta keteguhan hati mampu membuka jalan yang bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya.
